Smart City dalam bidang kesehatan: Dari Konsep Menuju Implementasi – Informatika Kesehatan Healthcare IT News

Smart City dalam bidang kesehatan: Dari Konsep Menuju Implementasi

Jargon Smart City semakin sering diperbincangkan akhir-akhir ini.  Tidak hanya seksi, tema ini juga menjadi ajang bagi daerah untuk memamerkan keunggulan inovasi  berbasis TI untuk meningkatkan layanan publik.

Bagaimana dengan layanan kesehatan? Apakah sudah ada daerah yang mencoba mengadopsi konsep tersebut? Bagaimana bentuknya? Apa tantangan implementasinya?

Sebagian jawaban dari pertanyaan tersebut terungkap dalam seminar Digitalisasi Kesehatan untuk Mendukung Smart City: Dari Konsep Menuju Implementasi yang diselenggarakan oleh Pokja Informatika Biomedis di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan pada 29 Maret 2018.

Konsep Smart City

Smart city merupakan sebuah konsep pengembangan dan pengelolaan kota dengan teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk menghubungkan, memonitor, dan mengendalikan berbagai sumber daya yang ada di dalam kota dengan lebih efektif dan efisien untuk memaksimalkan pelayanan kepada warganya serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Demikian disampaikan oleh  oleh Lina Wardiya, Kepala Seksi Pemberdayaan dan dan Fasilitasi Industri Perangkat Lunak Direktorat Pemberdayaan Industri Informatika, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Smart City mengandung 3 unsur. Komponen pertama adalah struktur yang terdiri dari orang, manajerial dan modal. Unsur kedua adalah Infrastruktur yang terdiri dari fisik, digital dan sosial. Elemen ketiga adalah regulasi, kerjasama lintas institusi, dan pelaksanaan.

Lina Wardiya memberikan contoh penerapan teknologi smart city dalam bidang kesehatan. Di Australia  My Health Record disediakan oleh pemerintah sebagai rekam kesehatan elektronik untuk warganya. Saat ini 23% (sekitar 5,5 juta) warga Australia tercatat di My Health Record. Setiap minggu bertambah 18 ribu catatan kesehatan baru. Sekitar 10 ribu fasilitas pelayanan kesehatan (dokter umum, rumah sakit, apotek dan lainnya) terkoneksi dalam platform ini. Informasi lebih lanjut mengenai My Health Record dapat diakses di sini.

Lina Wardiya juga memaparkan beberapa kategori perusahaan rintisan (start up) dalam bidang kesehatan.  Bentuk layanan yang diberikan diantaranya adalah On-demand Healthcare Service, E-commerce/marketplace, Teleconsultation, Information system, E-learning dll.

Landasan penting dalam pelaksanaan smart city di Indonesia adalah  aspek hukum yang tertuang dalam UU ITE no 19 tahun 2016 tentang perubahan UU ITE No 11 tahun 2008.

Pengalaman dari kota Makassar: tahapan, cakupan dan tantangan

Dalam upaya mewujudkan Kota Makassar  layanan transparan, cepat dan mudah di Kota Makassar, diluncurkanlah Sombere dan Smartcity Kota Makassar pada 8 Mei 2014. Hal ini diungkapkan oleh Sri Rimayani,  Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Makassar

Langkah berikutnya, pada tahun 2015, Pemerintah Kota Makassar membangun operation room. Pada tahun 2016, Pemerintah Kota Makassar juga mulai berkomitmen dalam perencanaan Big Data dan Open data serta mulai melakukan integrasi  e-service dengan NTPD, Carester, e-tax, homecare, dll.

Selanjutnya, pada tahun 2017 Kota Makassar mulai melakukan penyatuan paltform pelayanan publik, Integrasi infrastruktur, penguatan sumber daya  ICT Kota Makassar dan Smart RT/RW, Integrasi Cashless Payment System, dan peluncuran Smart Pete-pete. Pemerintah Kota Makassar mengharapkan pada tahun 2018 akan dilakukan pewujudan Smart city dimana setiap pengambilan keputusan didasari pada data yang teranalisis dalam Big Data.

Dalam sesi ini juga dijelaskan mengenai pengembangan dashboard oleh Pemerintah  Kota Makassar yaitu Makassar War Room yang merupakan aplikasi dashboard control yang terdiri dari call center, Hospital, Inflation Monitoring, Community Forum, Tracking Vehicles, CCTV, Permit License Data, Real Time Weather Report, dan Real Time Citizen Data.

Selain itu Sri Rimayani juga memaparakan mengenai beberapa pengembangan Sistem Informasi Kesehatan di Kota Makassar diantaranya adalah pengembangan dashboard menggunakan platform DHIS2 yang merupakan implementasi dari program Penguatan Sistem Kesehatan (Health System Strengthening) didukung oleh dana Global Fund for AIDS, TB and Malaria.

Selain itu Pemerintah Kota Makassar juga sudah mengembangkan Makassar Home Care dengan pelayanan kesehatan  ke rumah 24 jam Kota Makassar. Pemerintah Kota Makassar juga telah mengembangkan Telemedicine dalam proses pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Namun ada beberapa kendala yang dihadapi dalam penerapan telemedicine yaitu (1) Tingginya biaya pengadaan dan pemelitharaan infrastruktur, (2) Pola pikir yang masih konvensional: dokter harus berada di ruang yang sama dengan pasien untuk interprestasi hasil pemeriksaan, (3) Titik berat pelayanan kesehatan hanya pada pelayanan kesehatan (clinical service), (4) Tingginya biaya operasional penyelenggaraan telemedicine, dan (5) Pengoperasian yang tidak mudah.

Dalam presentasi ini juga disebutkan bahwa implementasi homecare dan telemedicine juga didukung oleh pemerintah Kota Makassar yang dibuktikan dengan adanya MOU Pemerintah Kota Makassar (Dinkes) dengan RS Unhas, MOU dengan Pemerintah Kota Makassar (Dinkes) dengan Perki Cabang Makassar (Tele-EKG), adanya pelatihan EKG bagi dokter puskesmas, pelatihan pelayanan homecare bagi perawat, bidan dan dokter puskesmas, dan pelatihan alur home care bagi  dokter, perawat , sopir dan dinas kesehatan.

Presentasi dari dr.Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG mengenai Aplikasi Android Prelite
Related Posts

Inovasi Pertukaran Rekam Medis Elektronik dengan Kartu…

Kementerian Kesehatan kembali membuat terobosan baru dengan meluncurkan Kartu Kesehatan Jamaah Haji Elektronik. Kartu Kesehatan Jamaah Haji Elektronik…

Komitmen Indonesia Satu Data Kesehatan melalui DHIS2

Adopsi DHIS2 untuk mendukung sistem informasi kesehatan di Indonesia semakin menguat.  Hal ini ditandai dengan komitmen Kementerian Kesehatan melalui…

Memperkuat Sistem Informasi Kesehatan (SIK) dengan DHIS2

Keberadaan sistem informasi kesehatan (SIK) sebagai salah satu subsistem dalam sistem kesehatan sangatlah penting. Melalui SIK yang handal, proses…

Layanan cerdas kesehatan ibu dan anak

dr.Muhammad Nurhadi Rahman, Sp.OG dari FKKMK UGM menyampaikan pengembangan aplikasi pelengkap layanan KIA bagi ibu hamil  yang disebut dengan Prelite.

Prelite merupakan aplikasi dengan konsep sebagai pelengkap Buku Kesehatan Ibu dan Anak serta memungkinkan pemantauan kesehatan ibu selama masa kehamilan melalui telepon seluler. Fitur yang tersedia meliputi informasi kondisi janin dan ibu, pustaka, catatan kehamilan, pengingat dan konsultasi dokter. Aplikasi ini dikembangkan oleh tim Legend yang merupakan kolaborasi antara mahasiswa dan dosen Fakultas Teknik dan Fakutas Kedokteran UGM.

Proses pengembangan aplikasi Prelite dimulai pada tahun 2016 yaitu dengan tahap penelitian dan proses pembuatan aplikasi serta ujicoba integrasi dengan rekam medis elektronik di RS JIH. Selanjutnya, pada tahun 2017 dilakukan pengembangan fitur pengisian catatan kesehatan mandiri, dan grafik laporan perkembangan. Beberapa kendala yang dihadapi  dalam pengembangan aplikasi ini adalah ketika SDM atau vendornya diganti maka proses pengembangan aplikasi ini pun terhambat.

Aplikasi Prelite sudah bisa dicari dan diunduh melalui google playstore secara gratis. Salah satu kelebihan aplikasi ini adalah adanya catatan kunjungan awal kehamilan dan catatan USG.  Beberapa data yang dikoleksi dari aplikasi ini adalah keluhan, tekanan darah, BB, umur kehamilan, TFU, Letak janin, DJJ, Hasil laboratorium, Tindakan/terapi, dan Edukasi.

Tahapan riset berikutnya adalah pengembangan aplikasi agar terintegrasi dengan program di Dinas Kesehatan. Selain itu juga akan dilengkapi dengan  fitur payment dan e-commerce. Aplikasi ini juga sudah beberapa kali diikutsertakan dalam kompetensi nasional maupun internasional.

Internet of Things (IOT) di kesehatan

IOT di bidang kesehatan merupakan lahan riset dengan potensi pasar yang luas. Berbagai area riset, mulai dari keselamatan pasien di rumah sakit, pengelolaan logistik sampai dengan integrasi alat pemantau perubahan lingkungan berpotensi untuk memberikan informasi terkini secara otomatis.  Hal ini disampaikan oleh Kurnianingsih dalam presentasinya yang berjudul Potential support to Smart city Wearable Technologies  Enabling The Next Wave of IoT Innovations. Menggunakan teknologi bluetooth berdaya rendah (Bluetooth Low Energy) yang dapat memancarkan sinyal secara terus menerus dalam jarak terbatas, Kurnianingsih memaparkan risetnya untuk pelacakan obat, pasien serta deteksi jatuh.  

Presentasi dari Kurnianingsih mengenai Potential support to Smart city Wearable Technologies Enabling The Next Wave of IoT Innovations

 

BLE telah diujicobakan  untuk pelacakan obat di  Klinik Pratama Graha Syifa. Manfaat medicine tracking adalah meminimalisir kesalahan dalam peberian obat. Dengan menempelkan beacon pada pada botol obat, sistem akan mendeteksi posisi obat mulai dari keluar apotik sampai ke ruangan pasien, serta tracking jumlah obat dan pemberin obat kepada pasien sesuai dengan penyakitnya. Selain itu Kurnianingsih juga mengembangkan pelacakan lansia (elderly tracking) untuk deteksi  pasien mulai dari ruang tidur, ruang makan, dan ruang keluarga. Elderly tracking akan memonitor pasien selama 3 jam sekali. Selain itu juga  disediakan sensor suhu dan juga  kelembapan serta peringatan ketika ketika pasien terjatuh.

Mahadata kesehatan: Twitter

Seiring dengan semakin mudah, cepat dan banyaknya data kesehatan yang terkumpul, teknologi pengolahan data kesehatan dalam jumlah besar (big data) menjadi salah satu kompetensi yang penting untuk dikuasai oleh sektor kesehatan.

Aditya L. Ramadona menyampaikan Big Data Analitics Kesehatan Masyarakat terkait Sistem Survailance untuk mengolah data Twitter. Dengan sekitar 24.34 juta penduduk  Indonesia yang aktif menggunakan Twitter, isi data yang terkandung di dalamnya sangat potensial untuk dianalisis dan meramalkan karakteristik populasi.

Dari semua layanan utama mereka, twitter menyediakan 1% data mereka untuk kita akses. Dengan adanya kemudahan ini maka kemudian kita dapat menggunakan data Twitter untuk tujuan pemantauan survailance. Data yang dieksplorasi adalah data teks, data pesan, tanggal pesan dan lokasi.

Penelitian pertama yang digunakan dalam penelitian Aditya L Ramadoa  adalah Mining of health and disease event on twitter: validating search protocols within the setting of Indonesia. Penelitian ini dimulai dengan pencarian kata kunci, misalnya rumah sakit, demam berdarah, rawat inap, pendarahan dll. Melalui pencarian kata kunci ini maka diperoleh 390 tweet dengan 273 tweets (70%) untuk training dan 117 tweets (30%) untuk validasi. Dari model ini kemudian digunakan untuk klasifikasi 1.145.649 tweets dan ditemukan bahwa sekitar 6109 tweets menggunakan tweets kesehatan. Sedangkan 1.139.540 tidak menggunakan tweets kesehatan.

Penelitian kedua mengenai Mobility weighted dengue incidence predicts intra-urban outbreak risk dengan melihat pola pergerakan perpindahan lokasi user. Secara agregrat kita bisa memperkirakan pola afiliasi di 45 desa di Jogja mulai dari bulan Agustus 2017 sampai september 2017. Selain itu kita juga bisa melihat data surveilans dengue di Jogja. Kemudahan lainnya adalah kita dapat melihat dan memperkirakan situasi demam berdarah sampai 6 bulan berikutnya.

Aditya L. Ramadona juga memaparkan penelitian ketiganya  yaitu monitoring introduction and spread of chikungunya in the age of big data: a case study. Metode yang digunakan dalam penelitian ini  adalah dengan melihat pola penyakit chikungunya dengan lingkup lebih luas antara negara. Penelitian ini menggunakan data kasus ECDC dan twitter mulai dari Juli, Agustus dan September 2017 (8.120.47 tweets)

Mahadata kesehatan: Data kesehatan rutin 

Sesi 3 adalah sesi hands on. Sesi ini diawali oleh pembukaan dan pengantar oleh Widoyono yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang. Widoyono menjelaskan  mengenai Pemanfaatan Data kesehatan untuk Kebutuhan Publik. Dalam pengantarnya beliau menjelaskan mengenai beberapa pengembangan e-health dan pengeloaan data kesehatan melalui penggunaan aplikasi kesehatan   yang terdiri dari Sinakes Sistem infomasi Tenaga Kesehatan, Sistem Informasi Kepegawaian (Simpeg),  Sistem Informasi Obat (SIMOB), ASPAK Kemenkes untuk pengelolaan Data Saran Prasarana dan Alkes,  Sistem Informasi Pengelolaan Barang Daerah (SIMBADA), dan  Sistem Informasi Data Dasar Kesehatan (SIDAKES). Sesi ini diakhiri dengan sesi hands-on yang  diberikan oleh dr. Watsiq Ahmad Maula mengenai cara membuat Sankey Diagram dengan Tableau.

 

Materi dalam Annual Scientific Meeting dapat diunduh melalui http://ugm.id/asm

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.